
2025-07-30
Mamuju Tengah, Sulawesi Barat – 30 Juli 2025. Limbah pertanian sering kali menjadi persoalan lingkungan yang diabaikan, namun di tangan Rangga Mahardhika Indarta, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM), limbah tersebut disulap menjadi sumber energi alternatif yang bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi. Melalui program bertajuk Briket Tropika, Rangga memperkenalkan teknologi sederhana berbasis limbah bonggol jagung sebagai bahan bakar alternatif yang efisien dan ramah lingkungan di Desa Palongaan, Dusun Polongaan, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.
Program ini menyasar masyarakat umum dan Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat yang selama ini aktif dalam kegiatan pertanian dan rumah tangga. Pemilihan sasaran ini dilatarbelakangi oleh potensi besar limbah bonggol jagung di desa tersebut yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah bonggol jagung yang umumnya dibakar atau dibuang kini dapat menjadi solusi energi alternatif, sekaligus peluang usaha baru yang bernilai ekonomis. Rangga menjelaskan bahwa Briket Tropika dirancang untuk bisa dibuat dengan alat dan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Proses pembuatan briket terdiri dari beberapa tahapan sederhana: bonggol jagung dikeringkan dan dihancurkan menjadi serbuk halus, kemudian dicampur dengan larutan tepung kanji dan air panas hingga menjadi adonan kental, selanjutnya dicetak sesuai bentuk yang diinginkan, dan terakhir dikeringkan selama empat hingga lima hari hingga siap digunakan. Briket yang dihasilkan memiliki keunggulan mudah dinyalakan, membara lebih lama, tidak menghasilkan asap pekat, serta ramah lingkungan, sehingga cocok digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari maupun untuk usaha mikro seperti penjual makanan.
Program ini mendapatkan sambutan positif dari warga Desa Palongaan. Anggota Kelompok Wanita Tani menyatakan antusias untuk mencoba membuat briket secara mandiri setelah melihat potensi manfaat dan nilai jualnya. “Selama ini bonggol jagung hanya kami buang atau dibakar. Ternyata bisa dijadikan bahan bakar yang hemat dan bersih. Kami jadi semangat ingin mencoba membuat sendiri dan mungkin dijual ke pasar,” ungkap salah satu anggota KWT Palongaan.
Melalui inovasi ini, Rangga berharap masyarakat dapat meneruskan produksi briket secara mandiri bahkan mengembangkannya menjadi unit usaha lokal berbasis energi terbarukan. Dengan dukungan dari pemerintah desa dan pihak terkait, Briket Tropika diharapkan dapat menjadi solusi yang tidak hanya mengatasi masalah limbah pertanian, tetapi juga meningkatkan ketahanan energi dan ekonomi desa di Sulawesi Barat.

